banner 468x60

KI SAHAL LOPANG CILIK; TOKOH SIMPUL ULAMA BANTEN ABAD 18

banner 160x600
banner 468x60

Tulisan ini adalah bentuk tindaklanjut dari apa yang barusan saya diskusikan dengan seorang pakar sejarah jebolan Universitas Leiden, yang sekarang menjabat sebagai ketua LP2M di salah satu kampus negeri di kota Serang.

Sudah cukup lama kami berdua tidak bertemu karena kesibukan kami masing-masing. Beliau melakukan penelitian di Afrika Selatan, sementara, saya sendiri barusan pulang dari Ponorogo, Jawa Timur untuk mengikuti International Seminar and Workshop on Islamic Microfinance di Universitas Darussalam, Gontor.

Di Banten ini, ada seorang ulama yang menjadi tali simpul para ulama Nusantara di abad 18, beliau adalah Ki Sahal Lopang Cilik. Ayah istri saya, KH. Sulaeman Ma’ruf, pengasuh pondok pesantren Darul Istiqomah, adalah salah satu keturunan beliau.

Lebih jauh, jika Anda membaca “Jaringan Ulama di Timur Tengah dan Indonesia” karya cendekiawan Muslim Azyumardi Azra, maka kita akan menemukan riwayat otoritas keilmuan beliau ke atas, yang nantinya akan berhulu pada Syeikh Abdullah bin Abdul Qahhar, seorang ulama yang jarang sekali dibahas dalam tulisan-tulisan ahli sejarah yang pernah menulis tentang Banten, meskipun beliau, sebenarnya mempunyai peran yang signifikan di kesultanan, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Arif Zainul Asyiqin. Di sini, semacam ada historiographical gap, sehingga untuk mengetahui biografi beliau, kita harus ke Turki, karena disinyalir, catatannya hanya dimiliki oleh Turki Utsmani, yang pada saat itu menjadi penguasa tanah suci Makkah.

Ki Sahal Lopang Cilik adalah gurunya Syeikh Nawawi Al-Bantani, salah seorang ulama yang paling terkenal dan mendunia di abad 19. Syeikh Nawawi sendiri telah menulis paling tidak 41 kitab kuning. List karya-karya beliau tersebut sampai sekarang masih tersimpan di salah satu museum di Inggris. Karya-karya beliau paling banyak tersimpan di perpustakaan di Leiden, Belanda, di sana ada 34 karya yang tersimpan. Tempat penyimpan terbanyak yang kedua adalah Mesir. Beberapa karangan beliau diterbitkan oleh salah satu penerbit di Babeluk, Mesir.

Di antara 41 karangan tersebut, masih ada 7 karya beliau yang belum dipublikasikan. Bukan karena dilarang oleh penguasa kolonial, tapi memang Syeikh Nawawi sendiri sepertinya belum berkenan untuk diterbitkan. Karya tersebut masih berupa catatan pribadi, sebagai bahan mengajar yang baru dapat dipelajari oleh murid-muridnya. Dengan kata lain, masih untuk kalangan terbatas.

Budaya arsip-mengarsipkan (inventarisir) di kalangan masyarakat kita, khususnya di pesantren masih sangat kurang. Arsip-arsip tahun lalu bahkan sering hilang ketika dicari untuk kebutuhan sekarang. Sementara, Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang Orientalis yang menjadi penasehat resmi pemerintah Belanda untuk usursan kolonial, selalu mengarsipkan apa yang ia tulis, apa yang ia terima dan apa yang ia kirimkan ke pihak lain. Hampir semua korespondensi dengan tokoh-tokoh Indonesia -termasuk surat undangan- sampai saat ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Leiden University. Bahkan korespondensinya dengan seorang tokoh seperti Suryaningrat saja, ia kumpulkan. Dan terkumpul sebanyak 2 bundel besar yang telah disusun dengan rapi, dari isi surat sampai amplop dan perangkonya.

Maka tidak heran jika pada tahun 1889, ketika ia menjadi professor bidang Melayu di Leiden University, ia telah mengumpulkan sebanyak 1400 paper (makalah) tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Indonesia. Pengetahuan dan budaya mengarsipkan yang ia miliki, mengantarkannya menjadi seorang ahli dalam bidang keislaman dan keindonesiaan di zamannya. Pada saat yang sama, kemampuannya itu, dipakai untuk merancang strategi yang ternyata sangat signifikan membantu pemerintah kolonial untuk mencengkeramkan kukunya di Indonesia. Mengarsipkan seperti pekerjaan sepele tapi dadi gawe. Dampaknya sangat besar. Ia menjadi benang merah peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Ia adalah the lines of life and moments. Bahkan, dengan arsip kita dapat mengeksplorasi sejarah kehidupan seseorang, maupun sebuah institusi.© SM (Serang, 30 Agustus 2016)

 

 

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a Reply