banner 468x60

JANGAN NONTON SINETRON INDONESIA, BAHAYA!!!!

banner 160x600
banner 468x60

Berbicara tentang dunia perfilman tanah air yang katanya sedang bangkit dan mulai marak. Ini sudah asing lagi di masyarakat kita sekarang ini. Namun kali ini kita akan lebih fokus pada masalah sinetron bukan layar lebar.

Sinetron sebenarnya memberikan warna terhadap dunia pertelevisian kita. Kita bisa melihat bintang-bintang muda yang penuh bakat beraksi mempertontonkan kelebihannya. Namun apakah kalian sadar bahwa sinetron yang hadir di hadapan anda tak lain hanya sebuah cerita bodoh yang akan membodohkan kalian??!!

Sinetron Indonesia selalu tampil dengan artis-artis cantik, cowok keren, latar belakang keluarga kaya-raya, dsb. Itu semua akan membawa kita ke dalam pemikiran hedonisme (pandangan yang menganggap kesenangan adalah tujuan utama hidup). Sebenarnya hal ini sudah menjadi perdebatan panjang sehingga pada tahun 2004 lalu pemerintah China mengumumkan bahwa serial sinetron dari Korea dan Taiwan dilarang tayang di negerinya…. (Hebat!!!!!)

Lalu bila kita melihat dari segi seni peran itu sendiri, Lola Amaria, artis muda Indonesia, menyatakan bahwa sinetron saat ini hanya berupa pembodohan, pembodohan nasional itu bisa terlihat pada jalan cerita yang hanya menjual mimpi dan tema yang tak mau beranjak dari persoalan roman picisan. Tema-tema picisan yang digarap dengan sistem manajemen ala warung ikut memicu dangkalnya seni peran dalam sinetron.

Lalu kita lihat dari segi pendidikan. Sesungguhnya setiap cerita yang disajikan memiliki pesan moral (amanat) yang bagus, namun sayangnya hal itu tertutupi oleh cara penyajian yang terlalu kelewatan dan sangat jauh dari realita kehidupan masyarakat. Sehingga yang diambil oleh masyarakat setelah menonton sinetron adalah kebanyakan hal-hal negatif. Kita ambil contoh sinetron yang berlatar sekolah, lalu kita lihat bagaimana penampilan para siswa-siswi di sinetron itu. Subhanallah sangat tidak sopan sekali. Dan celakanya hal inilah yang dicontoh oleh para pelajar kita.

Begitu banyak judul sinetron yang tayang di tv, dan ternyata hampir seluruh sinetron itu adalah produk jiplakan. Dalam dunia seni kita mungkin mengenal pepatah “mulailah berkarya dari meniru karya orang lain“, tapi yang dimaksud di sini adalah kita boleh menjiplak namun tetap harus memiliki ciri khas yang positif yang kedepannya mampu membentuk karakter kita sebagai individu yang unik atau berbeda.

Betapa memalukannya bangsa Indonesia yang hanya bisa menjiplak dan menjiplak saja!! Apa salahnya membuat cerita baru atau minimal ambil dari cerita-cerita novel karya anak bangsa ini.

Bila kita perhatikan kembali, para konsumen sinetron-sinetron Indonesia adalah kebanyakan pelajar, ibu-rumah tangga, dan para pembantu yang pada dasarnya tingkat intelektualitasnya masih rendah. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para produser film untuk membuat film murah dengan kualitas rendah namun laku dijual. Kenapa?? Karena kita belum cukup pintar untuk menilai kualitas sebuah karya seni.

Bagi mereka yang terpelajar dan memiliki intelektualitas tinggi (kita masuk gak ya??) mungkin mereka akan memilih tontonan-tontonan yang lebih bermanfaat bagi diri mereka ketimbang menonton sinetron.

Sampai kapan fenomena ini bertahan? Sulit ditentukan. Selama jumlah penontonnya masih banyak, selama production house masih produktif memproduksi, dan sampai kita masih belum tersadarkan diri, fenomena ini masih akan berlangsung lama.

Akhir kata saya mengajak sahabat-sahabat sekalian untuk pintar dalam memilih tayangan televisi dan mulai sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh tayangan tersebut bagi masyarakat di sekitar kita.

Wallahu a’lam bishowab.

Email Autoresponder indonesia
author

I am Happy

No Response

Leave a Reply