banner 468x60

Disiplin

No comment 331 views
Disiplin,5 / 5 ( 1votes )
banner 160x600
banner 468x60

DISIPLIN

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ  [الرحمن : 7 – 9]

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)

Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

 

Jagad raya ini, Allah ciptakan dengan prinsip tawazun (keseimbangan). Seluruh  makhluk yang hidup di dalamnya terikat dengan aturan. Matahari dan bulan beredar pada garis edarnya masing-masing, tidak pernah saling serobot. Keteraturan kerja keduanya telah menjadikan kehidupan alam semesta berjalan harmonis. Dan bersama dengan itu kehidupan manusia menjadi teratur.

Keseimbangan telah menyelamatkan alam semesta dari kehancuran. Matahari tidak pernah keluar dari garis orbitnya, tidak mendekat ke bumi atau menjauhinya. Jika matahari mendekat ke bumi maka pulau-pulau di muka bumi akan tenggelam karena bongkahan gletser di kutub utara mencair kepanasan. Sebaliknya jika matahari menjauh maka bumi akan membeku dan akan banyak makhluk hidup yang mati dalam kebekuan. Al-qur’an menuturkan :

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [يس : 40]

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Tata kerja matahari dan bulan demikian rapihnya telah menghadirkan pergantian waktu siang dan malam dengan tepat. Keterlambatan sedetik matahari berdampak besar terhadap tata kehidupan alam semesta. Dan itu tidak pernah terjadi.

Kita adalah anggota masyarakat planet bumi. Memiliki ikatan yang sama dengan alam semesta ini, bahkan sebagai manusia, aturan yang Allah berikan kepada kita lebih lengkap dibandingkan yang berlaku pada alam semesta. Ada aturan syar’i yang melibatkan akal untuk berperan aktif, tidak sekedar menjalani hidup namun juga harus meningkatkan kualitas hidup. Tidak sekedar menjalani tugas sebelum binasa namun ada harapan pasca kebinasaan berupa bidadari dan surga, taman bahagia yang bersifat abadi. Surga adalah puncak kebahagiaan. Diharapkan –dengannya- umat manusia termotivasi untuk menjalani hidup penuh semangat, mawas dan cerdas. Kecerdasan menjalani hidup ada pada orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mengorientasikan hidupnya untuk mencari akhirat.

Maka santri yang cerdas adalah yang memiliki disiplin tinggi di dalam menjalani aktifitas sehari-hari di pesantren. Aturan pada hakikatnya hanyalah sarana untuk mewujudkan cita-cita lembaga. Santri adalah bagian dari lembaga yang –dengan demikian- cita-citanya tidak bertentangan dengan cita-cita lembaga. Maka setiap awal tahun ajaran, lembaga menjelaskan arah dan tujuan serta bagaimana cara hidup di dalamnya. Panca jiwa dan panca tujuan merupakan rumusan yang memudahkan santri untuk memahami kehidupan di pesantren.

Dinamika kehidupan di pesantren diharapkan menjadi pelajaran bagi santri untuk menghadapi kenyataan masa depan. Setiap kebaikan yang ditanamkan di sini adalah baik untuk diterapkan di mana saja dan kapanpun. Untuk menjadi orang baik tidak cukup sekedar berharap hidayah dari Allah tanpa usaha sadar yang berkesinambungan. Empat atau enam tahun di pesantren insya Allah cukup untuk membiasakan kebaikan sebagai bekal masa depan jika santri sungguh-sungguh dan ikhlash menjalankannya.

Kebaikan akan menjadi akhlak dan sifat santri ketika proses pembiasaannya berhasil. Yaitu ketika otak bawah sadar mengambil alih pikiran sadar untuk amal kebaikan. Santri yang memiliki akhlak baik akan mampu mengamalkan kebaikan-kebaikan yang ia dapatkan di pesantren tanpa beban sedikitpun, karena otak bawah sadar memiliki unlimited power. Namun harus diingat untuk memberdayakan otak bawah sadar butuh pengerahan otak sadar yang terus-menerus tanpa henti. Keberhasilan seseorang terletak pada istiqomahnya menjalani proses yang baik dan benar. Tercapainya cita-cita adalah akibat, sedangkan menempuh proses adalah sebab. Cita-cita ada volumenya sedangkan gudangnya, yaitu sebab-sebab, tidak batas. Orang besar berkonsenstrasi pada hal-hal yang tidak terbatas, ia memilih sebab dan bukan akibat.

_________________

Oleh: Syamsul Hadi

 

 

 

Email Autoresponder indonesia
Tags:
author
belajar adalah proses menuju cita-cita
No Response

Leave a Reply